Semarang, Jawa Tengah.
“Akhirnya aktivitas hari ini selesai
sudah. Masa orientasi di universitas memang cukup menguras tenaga di banding
saat orientasi di SMA apalagi di SMP.”
Kalimat
ini lah yang sempat terbersit dalam benak Maya sesaat setelah dia menyandarkan
tubuh letihnya di kasur kesayangannya. Karena terlalu lelah, Bahkan dia belum
sempat mengganti pakaiannya yang basah dengan keringat.
Maya
adalah seorang mahasiswa baru di sebuah Universitas Negri di kota Semarang. Dia
mengambil program study pendidikan kimia. Hari ini adalah hari pertama dia
mengikuti masa orientasi yang diselenggarakan oleh pihak Fakultas yang wajib diikuti
oleh semua mahasiswa baru.
Sembari
melepas letihnya, Maya memilkirkan apa yang harus dia bawa untuk masa orientasi
hari kedua yaitu besok. Saat sedang fokus berfikir, tiba-tiba ponselnya
bergetar “...trut..trut...” yang mengisyaratkan ada pesan baru yang diterima.
Dengan malas, Maya mencoba meraih ponselnya yang ada di dalam tas. Satu pesan
dari nomer baru terlihat di layar ponselnya. Lalu dengan cepat Maya membuka isi
pesan singkat tersebut.
“gimana,dek tadi ospeknya? Capek enggak?”
Dengan perasaan penasaran, Maya pun
membalasnya.
“ya pasti capek doank,
ini siapa ya? Mbak Ela kah?”
“ela” dia adalah pendamping di kelompok
Maya tadi pagi.
Beberapa menit
kemudian........
“bukan dek, aku Handyan,” balasnya dalam
pesan singkat malam itu.
“Aduh salah...!,” kata Maya sambil
mengerutkan keningnya.
Ternyata bukan mbak ela, tetapi
seseorang yang bernama Handyan. Sebuah nama yang asing buat Maya. Dia mengaku
mahasiswa semester 3 prodi pendidikan Kimia, yang berasal dari kota Pekalongan.
“oh
mas Handyan, maaf aku enggak kenal. Kok mas tau aku?,” tanya Maya semakin
penasaran.
“masih
inget apa enggak dek? Tadi kamu nabrak cowo kan pas di laboratorium? Nah itu
aku,” jelasnya dengan singkat.
“wah
maaf mas, tadi aku terburu-buru jadi enggak sempet liat cowo yang aku tabrak
hehehe,” jawab Maya dengan lugunya. “udah dulu ya mas smsnya, aku capek”,
sambung Maya untuk memperpendek obrolan. “oh iya dek, semangat buat besok ya”,
balas Handyan.
Saat itu tak ada
sedikitpun ketertarikan dalam diri Maya untuk lebih mengenal lelaki itu.
Hari-hari berikutnya
dalam masa orientasi pun berlalu begitu cepat, tanpa terasa masa orintasi pun
telah berakhir dan perkuliahan minggu pertama telah dimulai.
Layaknya
mahasiswa baru yang lain, Maya sangat menikmati rutinitas barunya di kampus
yang sejak dulu diidamkannya. Tanpa merasa lelah, Maya slalu mengikuti kegiatan
apapun yang diselenggarakan di Kampus. Saat bulan Ramadhan, Kampus mengadakan
kegiatan buka puasa bersama. Saat itu Maya berkenalan dengan 2 cewe yang duduk
di sampingnya. Awal perkenalan mereka adalah gara-gara pembagian makanan untuk
berbuka. 2 cewe itu bernama Desi, yang
berasal dari Semarang dan Tira yang berasal dari Purwodadi. Sejak saat itu
mereka mulai bersahabat. Persahabatan mereka semakin erat setelah mereka
bertiga tau bahwa mereka adalah teman sekelas. “Sebuah kebetulan yang saat
menarik”,pikir maya saat itu.
Sejak malam itu, Lelaki
yang mengaku bernama Handyan tak pernah menghubungi Maya. Namun saat lebaran
Idul fitri, Lelaki itu mengirim sebuah pesan singkat ke ponsel Maya yang isinya
mengucapkan selamat Idul fitri. Mulailah hubungan mereka terjalin, Maya dan
Handyan mulai saling tukar kabar melalui pesan singkat dan sesekali berbicara
lewat telpon. Namun mereka belum sekalipun bertatap muka.
Sampai pada suatu hari,
Maya bermaksut meminjam buku praktikum milik Handyan. Akhirnya mereka pun
bertatap muka. saat itu suasana pertemuan mereka sangat canggung. namun Maya
mencoba mencairkannya dengan sesekali melontarkan lelucon.
Seiring
berjalannya waktu, Maya dan Lelaki itu semakin akrab. Sering saling mengirim
pesan, telpon dan bertemu. Lama-kelamaan seperti ada sesuatu dalam diri Handyan
yang dapat membuat Maya merasa nyaman di dekatnya. Suatu ketika, Handyan
mengutarakan isi hatinya pada Maya. Handyan bermaksut serius dengan hubungan
yang dia jalani dengan Maya. Lelaki itu tidak ingin hanya sekedar berteman,
namun Maya menolak permintaan Handyan. Karena saat itu, hati Maya telah
dimiliki oleh seseorang di masa lalunya yang sampai saat ini masih dia cintainya.
Mengetahui keputusan Maya seperti itu, Handyan tiba-tiba seolah menghindar dari
Maya. Tak pernah sms, telpon ataupun mengajak bertemu.
Disuatu pagi yang cerah saat Maya hendak berangkat
kuliah, ditengah perjalanan Maya ditabrak oleh seseorang yang mengendarai
sepeda motornya begitu cepat. Akhirnya kecelakaanpun tak dapat terelakkan. Kaki
kanan Maya tertidih oleh sepeda motornya sampai tungkak kaki kanannya hampir
patah dan berlinang darah. Kemudian Maya segera dibawa ke rumah sakit. Saat
kecelakaaan itu, entah apa yang ada di benak Maya. Tanpa sadar dia mengirim
pesan singkat lewat ponselnya untuk Lelaki itu, saat membaca pesan singkat yang
dikirim oleh Maya, spontan Handyan langsung menelpon Maya. Tapi sayangnya yang
mengangkat bukan Maya, melainkan ibunda Maya. Saat itu Maya sedang menangis
kesakitan karena kakinya yang berlumuran darah. itu adalah awal ibunda Maya
mengenal lelaki yang bernama Handyan.
Karena dokter memfonis
Maya tidak bisa berjalan dalam waktu yang cukup lama, ayah Maya bersikeras menyuruh
Maya untuk cuti kuliah sampai sembuh, dan ibunda Maya pun hanya bisa diam
dengan keputusan ayah Maya. Sebenarnya Maya tidak ingin cuti kuliah, namun Maya
takut menolak perintah ayahnya, yang bisa Maya lakukan hanya menangis dikamar.
Sering Maya melamun dan berharap bahwa semua kejadian ini adalah mimipi, sebuah
mimpi buruk yang saat Maya tersadar. Semua akan kembali baik-baik saja. Namun
setiap Maya tersadar dari lamunannya, dia harus iklas menelan pahit lamunannya
karena semua yang terjadi ini bukanlah mimpi. saat Maya merasa terpuruk, tak
tau harus bagaimana. Lelaki itu kembali datang untuk menyemanggati Maya, dengan
kata-katanya dapat menenangkan dan menyejukkan hati Maya.
Mungkin inilah kalimat
yang tepat untuk menggambarkan keadaan saat itu.
Saat Maya menceritakan
semua yang terjadi pada Handyan, lelaki itu menyarankan Maya untuk jujur atas
perasaannya pada orang tuanya. Maya pun memberanikan diri untuk melakukan apa
yang Handyan sarankan padanya. Setelah Maya mengutarakan isi hatinya pada orang
tuanya bahwa sebenarnya Maya tidak ingin cuti kuliah, dengan perasaan berat
hati ayah Maya pun akhirnya mengizinkan Maya untuk tetap lanjut kuliah dengan
syarat Maya tidak boleh banyak bergerak sampai kaki kanannya sudah pulih. Maya
begitu bahagia mendengar keputusan ayahnya tersebut. Selama kurang lebih
sebulan, Maya setiap pagi berangkat kuliah diantar oleh saudaranya namun
saudara Maya tidak bisa menjemput Maya karena saudaranya kerja. Akhirnya dengan
terpaksa Maya meminta tolong Handyan untuk mengantarnya pulang. Saat itu, 2
sahabat Maya yaitu Desi dan Tira tidak bisa mengantar Maya pulang karena Desi
belum mempunyai motor, sedangkan Tira tidak berani mengantar Maya pulang karena
tidak paham jalan, maklum Tira bukan berasal dari Semarang. Melainkan
Purwodadi. Karena sering menghabiskan waktu berdua, walo hanya sekedar mengantar
Maya pulang setiap hari. Hubungan Maya dan Handyan pun semakin dekat dan tak
bisa dipungkiri, Maya mulai merasa nyaman berada disamping Handyan. karena
Lelaki itu slalu bisa membuat Maya tersenyum saat Maya merasa sedih.
Suatu hari dimusim
hujan, salah satu stasiun televisi swasta memberitakan bahwa daerah Wonosari
dikabarkan mengalami banjir hingga atap rumah. 7 orang meninggal dan warga
lainnya diungsikan di rumah-rumah yang letaknya ada di daerah yang lebih
tinggi. Saat itu Maya sedang dikampus,
dia sedang pretest praktikum. Ketika sedang fokus mengerjakan
pretest, tiba-tiba ponsel Maya berbunyi. Setelah meminta izin dari asdos, Maya
pun menerima panggilan telpon tersebut. Rupanya ibunda Maya yang menelpon,
“May,
hari ini tidak usah pulang ya. Tidur dirumah temanmu saja,” tutur ibunda Maya
dengan suara lantang.
“Lha
kenapa,bu?”, tanya Maya penasaran.
“Rumah
kita kebanjiran, ini ibu sedang ngungsi. Ayah dan adek belum tau kabarnya,
Belum ditemukan. Pokoknya Maya sekarang tidur dirumah teman dulu ya. Besok ibu
kabarin lagi. Assalamualaikum,”jawab ibunda Maya menjelaskan kepada anak
pertamanya.
“Ya
Allah. Iya,bu. Waalaikumsalam,” sahut Maya dengan suara lemas.
Seketika itu Maya pun
langsung menangis. Tira, sahabat Maya mencoba menengkan dan mengajak Maya untuk
menginap di kost nya. Karena Maya terus saja menangis, tira pun bingung harus
bagaimana. Akhirnya Tira menghubungi Handyan, mengabarkan apa yang telah
terjadi pada Maya. Secepat kilat Handyan sudah berada di depan kost Tira
membawakan obat-obatan yang dibutuhkan Maya untuk membersihkan luka di kaki
kananya yang kemarin tertabrak. Handyan berpesan pada Tira untuk sebisa mungkin
menghibur Maya. Disisi lain Handyan juga mencoba menghibur Maya dengan mengirim
kata-kata yng dapat menyemangati gadis berusia 19 taun tersebut. Beberapa saat
kemudaian, ibunda Maya mengabari kalo ayah dan adiknya sudah ditemukan. Namun
rumah Maya sudah tidak tersisa. Semua yang Maya punya lenyap di telan air. yang
tersisa hanya keluarganya. Namun Maya sangat brsyukur karena keluarganya telah
diselamatkan oleh Allah SWT.
Akhirnya seminggu
setelah banjir besar itu, orang tua Maya menyuruh Maya untuk kost. Karena rumah
Maya sedang diperbaiki akibat rusak terkena banjir kemarin. Hubungan Maya dan
Handyan pun menjadi lebih dekat. Mereka sering menghabiskan waktu bersama,
misalnya makan malam berdua. Sejak saat itu Maya mulai melalui hari-harinya
bersama Handyan. Lelaki itu menjadi layaknya Bom semangat di hidup Maya. Saat
Maya merasa putus asa. Dia slalu menghibur dan menyemangati Maya. Entah sejak
kapan tanpa sadar Maya mulai menyukai lelaki itu dan sosok lelaki yang dulu
Maya sukai dari masa lalunya kini telah hilang dalam benaknya. Disuatu malam,
tiba-tiba Maya mengirim pesan singkat ke ponsel Handyan yang berisi satu
kalimat, yaitu “Love you”. Membaca isi pesan singkat tersebut, hati Handyan pun
bahagia bercampur kaget. Dia tidak menyangka bahwa cintanya akan dibalas oleh
Maya. Sejak kejadian itu, tanpa kata “pacaran”, mereka mulai menjalani
hari-hari mereka bersama.
Awalnya ayah Maya tidak
terlalu suka dengan lelaki itu. Setiap kali Handyan mengantar Maya pulang, ayah
Maya slalu saja bersikap dingin dengan Handyan. Namun itu tak membuat Handyan
merasa jera dan takut, justru Handyan lebih sering menghabiskan waktu untuk
ngobrol dengan ayah Maya setiap kali mengantar Maya pulang. Bagaikan batu yang
ditetesi air, lama-kelamaan akan pecah juga. Itupun juga terjadi pada ayah
Maya. Dengan berjalannya waktu, Beliau mulai bisa menerima kehadiran Handyan.
Bahkan ayah Maya kini menyukai lelaki itu, setelah tau bahwa Handyan adalah
lelaki yang baik.
2 bulan sudah Maya
harus berjalan dengan satu kakinya, dan hari ini dokter membolehkan Maya untuk
menapakkan kaki kanannya ditanah untuk berpijak. Alangkah bahagia hati Maya
saat itu. Handyan pun turut bahagia karena wanita yang disayanginya kini telah
bisa kemabali berjalan dengan kedua kakinya.
Orang bijak mengatakan
“hubungan seorang laki-laki dan perempuan, bukan hanya menyangkut aku dan kamu.
namun juga menyangkut aku, kamu, keluargamu dan keluargku.
Setahun setelah mereka
menjalani hubungan bersama. Handyan ingin mengenalkan Maya pada kedua orangtuanya
di Pekalongan. Saat itu Maya bingung, antara takut dan ingin. Akhirnya Maya
menceritakan kepada ibundanya mengenai niatan Handyan mengajak Maya bertemu
orangtuanya. Ibunda Maya pun mengizinkan Maya pergi. Maya dan Handyan memilih
naik kereta untuk sampai ke pekalongn daripada naik motor ataupun bus.
Perjalanan yang cukup lama pun berakhir, akhirnya mereka sampai di stasiun
kereta api di Pekalongan. Perasaan senang dan takut bercampur menjadi satu
dihati Maya, senang karena dia akan bertemu dengan orangtua Lelaki yang dia
sayang. Namun ada juga rasa takut, karena kwatir apakah orang tua Handyan bisa
menerimanya atau tidak. Sesampainya dirumah Handyan, sambutan yang hangat dan
ramah pun diterima Maya dari orangtua lelaki itu. Itu sangat melegakan hati Maya.
Kini Maya dan Handyan
telah membuat janji untuk slalu hidup bersama, walo mereka tau bahwa yang kelak
menakdirkan mereka tetap bersama atau tidak adalah Allah SWT. Namun mereka akan
tetap berusaha sebaik mungkin menjalani hubungan ini. Mereka akan mencoba
saling mengerti, memahami dan saling memaafkan saat yang lain melakukan salah.
Kalender ditempok kamar
Maya menunjukkan tanggal 30 november 2012, tanpa terasa 2 tahun sudah mereka
melalui semuanya bersama.
Sebuah hati yang tulus
menyayangi seseorang, akan dapat meluluhkan hati seseorang yang dia sayangi.
Hanya butuh kesabaran untuk mendapatkannya. Inilah yang sekarang dialami oleh
Maya & Handyan.
Lelaki itu bernama
“Handyan”. Lelaki yang mengajak Maya bersyukur saat kegagalan menghampiri,
Lelaki yang mengajarkan Maya akan tujuan hidup, Lelaki yang menerima masa lalu
Maya dan yang siap merancangkan masa depan bersama Maya.
“iya... Lelaki itu bernama “Handyan”, seorang
Lelaki yang kini menjadi mantan kekasih Maya, karena Maya dan Handyan telah
resmi menikah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar