about my life

about my life
it's me

Selasa, 24 Desember 2013

“Lelaki Itu Bernama”

Semarang, Jawa Tengah.
“Akhirnya aktivitas hari ini selesai sudah. Masa orientasi di universitas memang cukup menguras tenaga di banding saat orientasi di SMA apalagi di SMP.”
            Kalimat ini lah yang sempat terbersit dalam benak Maya sesaat setelah dia menyandarkan tubuh letihnya di kasur kesayangannya. Karena terlalu lelah, Bahkan dia belum sempat mengganti pakaiannya yang basah dengan keringat.
            Maya adalah seorang mahasiswa baru di sebuah Universitas Negri di kota Semarang. Dia mengambil program study pendidikan kimia. Hari ini adalah hari pertama dia mengikuti masa orientasi yang diselenggarakan oleh pihak Fakultas yang wajib diikuti oleh semua mahasiswa baru.
            Sembari melepas letihnya, Maya memilkirkan apa yang harus dia bawa untuk masa orientasi hari kedua yaitu besok. Saat sedang fokus berfikir, tiba-tiba ponselnya bergetar “...trut..trut...” yang mengisyaratkan ada pesan baru yang diterima. Dengan malas, Maya mencoba meraih ponselnya yang ada di dalam tas. Satu pesan dari nomer baru terlihat di layar ponselnya. Lalu dengan cepat Maya membuka isi pesan singkat tersebut.
 “gimana,dek tadi ospeknya? Capek enggak?”
Dengan perasaan penasaran, Maya pun membalasnya.
“ya pasti capek doank, ini siapa ya? Mbak Ela kah?”
“ela” dia adalah pendamping di kelompok Maya tadi pagi.
Beberapa menit kemudian........
“bukan dek, aku Handyan,” balasnya dalam pesan singkat malam itu.
“Aduh salah...!,” kata Maya sambil mengerutkan keningnya.
Ternyata bukan mbak ela, tetapi seseorang yang bernama Handyan. Sebuah nama yang asing buat Maya. Dia mengaku mahasiswa semester 3 prodi pendidikan Kimia, yang berasal dari kota Pekalongan.
“oh mas Handyan, maaf aku enggak kenal. Kok mas tau aku?,” tanya Maya semakin penasaran.
“masih inget apa enggak dek? Tadi kamu nabrak cowo kan pas di laboratorium? Nah itu aku,” jelasnya dengan singkat.
“wah maaf mas, tadi aku terburu-buru jadi enggak sempet liat cowo yang aku tabrak hehehe,” jawab Maya dengan lugunya. “udah dulu ya mas smsnya, aku capek”, sambung Maya untuk memperpendek obrolan. “oh iya dek, semangat buat besok ya”, balas Handyan.
Saat itu tak ada sedikitpun ketertarikan dalam diri Maya untuk lebih mengenal lelaki itu.
Hari-hari berikutnya dalam masa orientasi pun berlalu begitu cepat, tanpa terasa masa orintasi pun telah berakhir dan perkuliahan minggu pertama telah dimulai.
            Layaknya mahasiswa baru yang lain, Maya sangat menikmati rutinitas barunya di kampus yang sejak dulu diidamkannya. Tanpa merasa lelah, Maya slalu mengikuti kegiatan apapun yang diselenggarakan di Kampus. Saat bulan Ramadhan, Kampus mengadakan kegiatan buka puasa bersama. Saat itu Maya berkenalan dengan 2 cewe yang duduk di sampingnya. Awal perkenalan mereka adalah gara-gara pembagian makanan untuk berbuka.  2 cewe itu bernama Desi, yang berasal dari Semarang dan Tira yang berasal dari Purwodadi. Sejak saat itu mereka mulai bersahabat. Persahabatan mereka semakin erat setelah mereka bertiga tau bahwa mereka adalah teman sekelas. “Sebuah kebetulan yang saat menarik”,pikir maya saat itu.
Sejak malam itu, Lelaki yang mengaku bernama Handyan tak pernah menghubungi Maya. Namun saat lebaran Idul fitri, Lelaki itu mengirim sebuah pesan singkat ke ponsel Maya yang isinya mengucapkan selamat Idul fitri. Mulailah hubungan mereka terjalin, Maya dan Handyan mulai saling tukar kabar melalui pesan singkat dan sesekali berbicara lewat telpon. Namun mereka belum sekalipun bertatap muka.
Sampai pada suatu hari, Maya bermaksut meminjam buku praktikum milik Handyan. Akhirnya mereka pun bertatap muka. saat itu suasana pertemuan mereka sangat canggung. namun Maya mencoba mencairkannya dengan sesekali melontarkan lelucon.
            Seiring berjalannya waktu, Maya dan Lelaki itu semakin akrab. Sering saling mengirim pesan, telpon dan bertemu. Lama-kelamaan seperti ada sesuatu dalam diri Handyan yang dapat membuat Maya merasa nyaman di dekatnya. Suatu ketika, Handyan mengutarakan isi hatinya pada Maya. Handyan bermaksut serius dengan hubungan yang dia jalani dengan Maya. Lelaki itu tidak ingin hanya sekedar berteman, namun Maya menolak permintaan Handyan. Karena saat itu, hati Maya telah dimiliki oleh seseorang di masa lalunya yang sampai saat ini masih dia cintainya. Mengetahui keputusan Maya seperti itu, Handyan tiba-tiba seolah menghindar dari Maya. Tak pernah sms, telpon ataupun mengajak bertemu.
            Disuatu pagi yang cerah saat Maya hendak berangkat kuliah, ditengah perjalanan Maya ditabrak oleh seseorang yang mengendarai sepeda motornya begitu cepat. Akhirnya kecelakaanpun tak dapat terelakkan. Kaki kanan Maya tertidih oleh sepeda motornya sampai tungkak kaki kanannya hampir patah dan berlinang darah. Kemudian Maya segera dibawa ke rumah sakit. Saat kecelakaaan itu, entah apa yang ada di benak Maya. Tanpa sadar dia mengirim pesan singkat lewat ponselnya untuk Lelaki itu, saat membaca pesan singkat yang dikirim oleh Maya, spontan Handyan langsung menelpon Maya. Tapi sayangnya yang mengangkat bukan Maya, melainkan ibunda Maya. Saat itu Maya sedang menangis kesakitan karena kakinya yang berlumuran darah. itu adalah awal ibunda Maya mengenal lelaki yang bernama Handyan.
Karena dokter memfonis Maya tidak bisa berjalan dalam waktu yang cukup lama, ayah Maya bersikeras menyuruh Maya untuk cuti kuliah sampai sembuh, dan ibunda Maya pun hanya bisa diam dengan keputusan ayah Maya. Sebenarnya Maya tidak ingin cuti kuliah, namun Maya takut menolak perintah ayahnya, yang bisa Maya lakukan hanya menangis dikamar. Sering Maya melamun dan berharap bahwa semua kejadian ini adalah mimipi, sebuah mimpi buruk yang saat Maya tersadar. Semua akan kembali baik-baik saja. Namun setiap Maya tersadar dari lamunannya, dia harus iklas menelan pahit lamunannya karena semua yang terjadi ini bukanlah mimpi. saat Maya merasa terpuruk, tak tau harus bagaimana. Lelaki itu kembali datang untuk menyemanggati Maya, dengan kata-katanya dapat menenangkan dan menyejukkan hati Maya.
Mungkin inilah kalimat yang tepat untuk menggambarkan keadaan saat itu.
*      Saat ku tak mampu lagi untuk tersenyum, dialah senyum baru dalam hidupku.
*      Dan saaat ku butuh sandaran dalam sedihku,,,bahunyalah yang mampu dan mau memberikan sandaran yang hangat bagiku.
Saat Maya menceritakan semua yang terjadi pada Handyan, lelaki itu menyarankan Maya untuk jujur atas perasaannya pada orang tuanya. Maya pun memberanikan diri untuk melakukan apa yang Handyan sarankan padanya. Setelah Maya mengutarakan isi hatinya pada orang tuanya bahwa sebenarnya Maya tidak ingin cuti kuliah, dengan perasaan berat hati ayah Maya pun akhirnya mengizinkan Maya untuk tetap lanjut kuliah dengan syarat Maya tidak boleh banyak bergerak sampai kaki kanannya sudah pulih. Maya begitu bahagia mendengar keputusan ayahnya tersebut. Selama kurang lebih sebulan, Maya setiap pagi berangkat kuliah diantar oleh saudaranya namun saudara Maya tidak bisa menjemput Maya karena saudaranya kerja. Akhirnya dengan terpaksa Maya meminta tolong Handyan untuk mengantarnya pulang. Saat itu, 2 sahabat Maya yaitu Desi dan Tira tidak bisa mengantar Maya pulang karena Desi belum mempunyai motor, sedangkan Tira tidak berani mengantar Maya pulang karena tidak paham jalan, maklum Tira bukan berasal dari Semarang. Melainkan Purwodadi. Karena sering menghabiskan waktu berdua, walo hanya sekedar mengantar Maya pulang setiap hari. Hubungan Maya dan Handyan pun semakin dekat dan tak bisa dipungkiri, Maya mulai merasa nyaman berada disamping Handyan. karena Lelaki itu slalu bisa membuat Maya tersenyum saat Maya merasa sedih.
Suatu hari dimusim hujan, salah satu stasiun televisi swasta memberitakan bahwa daerah Wonosari dikabarkan mengalami banjir hingga atap rumah. 7 orang meninggal dan warga lainnya diungsikan di rumah-rumah yang letaknya ada di daerah yang lebih tinggi.  Saat itu Maya sedang dikampus, dia sedang pretest praktikum. Ketika sedang fokus mengerjakan pretest, tiba-tiba ponsel Maya berbunyi. Setelah meminta izin dari asdos, Maya pun menerima panggilan telpon tersebut. Rupanya ibunda Maya yang menelpon,
“May, hari ini tidak usah pulang ya. Tidur dirumah temanmu saja,” tutur ibunda Maya dengan suara lantang.
“Lha kenapa,bu?”, tanya Maya penasaran.
“Rumah kita kebanjiran, ini ibu sedang ngungsi. Ayah dan adek belum tau kabarnya, Belum ditemukan. Pokoknya Maya sekarang tidur dirumah teman dulu ya. Besok ibu kabarin lagi. Assalamualaikum,”jawab ibunda Maya menjelaskan kepada anak pertamanya.
“Ya Allah. Iya,bu. Waalaikumsalam,” sahut Maya dengan suara lemas.
Seketika itu Maya pun langsung menangis. Tira, sahabat Maya mencoba menengkan dan mengajak Maya untuk menginap di kost nya. Karena Maya terus saja menangis, tira pun bingung harus bagaimana. Akhirnya Tira menghubungi Handyan, mengabarkan apa yang telah terjadi pada Maya. Secepat kilat Handyan sudah berada di depan kost Tira membawakan obat-obatan yang dibutuhkan Maya untuk membersihkan luka di kaki kananya yang kemarin tertabrak. Handyan berpesan pada Tira untuk sebisa mungkin menghibur Maya. Disisi lain Handyan juga mencoba menghibur Maya dengan mengirim kata-kata yng dapat menyemangati gadis berusia 19 taun tersebut. Beberapa saat kemudaian, ibunda Maya mengabari kalo ayah dan adiknya sudah ditemukan. Namun rumah Maya sudah tidak tersisa. Semua yang Maya punya lenyap di telan air. yang tersisa hanya keluarganya. Namun Maya sangat brsyukur karena keluarganya telah diselamatkan oleh Allah SWT.
Akhirnya seminggu setelah banjir besar itu, orang tua Maya menyuruh Maya untuk kost. Karena rumah Maya sedang diperbaiki akibat rusak terkena banjir kemarin. Hubungan Maya dan Handyan pun menjadi lebih dekat. Mereka sering menghabiskan waktu bersama, misalnya makan malam berdua. Sejak saat itu Maya mulai melalui hari-harinya bersama Handyan. Lelaki itu menjadi layaknya Bom semangat di hidup Maya. Saat Maya merasa putus asa. Dia slalu menghibur dan menyemangati Maya. Entah sejak kapan tanpa sadar Maya mulai menyukai lelaki itu dan sosok lelaki yang dulu Maya sukai dari masa lalunya kini telah hilang dalam benaknya. Disuatu malam, tiba-tiba Maya mengirim pesan singkat ke ponsel Handyan yang berisi satu kalimat, yaitu “Love you”. Membaca isi pesan singkat tersebut, hati Handyan pun bahagia bercampur kaget. Dia tidak menyangka bahwa cintanya akan dibalas oleh Maya. Sejak kejadian itu, tanpa kata “pacaran”, mereka mulai menjalani hari-hari mereka bersama.
Awalnya ayah Maya tidak terlalu suka dengan lelaki itu. Setiap kali Handyan mengantar Maya pulang, ayah Maya slalu saja bersikap dingin dengan Handyan. Namun itu tak membuat Handyan merasa jera dan takut, justru Handyan lebih sering menghabiskan waktu untuk ngobrol dengan ayah Maya setiap kali mengantar Maya pulang. Bagaikan batu yang ditetesi air, lama-kelamaan akan pecah juga. Itupun juga terjadi pada ayah Maya. Dengan berjalannya waktu, Beliau mulai bisa menerima kehadiran Handyan. Bahkan ayah Maya kini menyukai lelaki itu, setelah tau bahwa Handyan adalah lelaki yang baik.
2 bulan sudah Maya harus berjalan dengan satu kakinya, dan hari ini dokter membolehkan Maya untuk menapakkan kaki kanannya ditanah untuk berpijak. Alangkah bahagia hati Maya saat itu. Handyan pun turut bahagia karena wanita yang disayanginya kini telah bisa kemabali berjalan dengan kedua kakinya.
Orang bijak mengatakan “hubungan seorang laki-laki dan perempuan, bukan hanya menyangkut aku dan kamu. namun juga menyangkut aku, kamu, keluargamu dan keluargku.
Setahun setelah mereka menjalani hubungan bersama. Handyan ingin mengenalkan Maya pada kedua orangtuanya di Pekalongan. Saat itu Maya bingung, antara takut dan ingin. Akhirnya Maya menceritakan kepada ibundanya mengenai niatan Handyan mengajak Maya bertemu orangtuanya. Ibunda Maya pun mengizinkan Maya pergi. Maya dan Handyan memilih naik kereta untuk sampai ke pekalongn daripada naik motor ataupun bus. Perjalanan yang cukup lama pun berakhir, akhirnya mereka sampai di stasiun kereta api di Pekalongan. Perasaan senang dan takut bercampur menjadi satu dihati Maya, senang karena dia akan bertemu dengan orangtua Lelaki yang dia sayang. Namun ada juga rasa takut, karena kwatir apakah orang tua Handyan bisa menerimanya atau tidak. Sesampainya dirumah Handyan, sambutan yang hangat dan ramah pun diterima Maya dari orangtua lelaki itu. Itu sangat melegakan hati Maya.
Kini Maya dan Handyan telah membuat janji untuk slalu hidup bersama, walo mereka tau bahwa yang kelak menakdirkan mereka tetap bersama atau tidak adalah Allah SWT. Namun mereka akan tetap berusaha sebaik mungkin menjalani hubungan ini. Mereka akan mencoba saling mengerti, memahami dan saling memaafkan saat yang lain melakukan salah.
Kalender ditempok kamar Maya menunjukkan tanggal 30 november 2012, tanpa terasa 2 tahun sudah mereka melalui semuanya bersama.
Sebuah hati yang tulus menyayangi seseorang, akan dapat meluluhkan hati seseorang yang dia sayangi. Hanya butuh kesabaran untuk mendapatkannya. Inilah yang sekarang dialami oleh Maya & Handyan.
Lelaki itu bernama “Handyan”. Lelaki yang mengajak Maya bersyukur saat kegagalan menghampiri, Lelaki yang mengajarkan Maya akan tujuan hidup, Lelaki yang menerima masa lalu Maya dan yang siap merancangkan masa depan bersama Maya.
 “iya... Lelaki itu bernama “Handyan”, seorang Lelaki yang kini menjadi mantan kekasih Maya, karena Maya dan Handyan telah resmi menikah.